RSS

PENERAPAN PENDEKATAN BRAIN BASED LEARNING(BBL) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

20 Sep

Abstrak: Pembelajaran matematika banyak memuat konsep-konsep abstrak. Siswa membutuhkan koneksi matematis yang baik untuk dapat mempelajari konsep-konsep abstrak tersebut. Dalam peningkatan koneksi matematis, guru perlu mengoptimalkan kerja otak. Salah satu pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kerja otak adalah dengan penerapan pendekatan Brain Based Learning (BBL). Penerapan pendekatan Brain Based Learning (BBL) dalam pembelajaran matematika diharapkan dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan berpikir, khususnya kemampuan berpikir matematis, termasuk kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi.

Kata-kata kunci: brain based learning, pembelajaran matematika, sekolah dasar

Mata pelajaran matematika merupakan pelajaran wajib bagi setiap peserta didik di  tingkat Sekolah Dasar. James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Ciri yang sangat penting dalam matematika adalah disiplin berpikir yang didasarkan pada berpikir logis, konsisten, inovatif dan kreatif.

Pembelajaran matematika banyak memuat konsep-konsep abstrak. Hal inilah yang sering dianggap menjadi kesulitan bagi siswa untuk mempelajari matematika. Pada umunya siswa merasa kesulitan untuk mengaplikasikan pengetahuan matematika yang dimilikinya dalam kehidupan nyata (Ruspiani Gordah, 2009: 4). Padahal apabila dikaji lebih mendalam kegiatan manusia sendiri merupakan kegiatan matematika.

Aktivitas manusia tidak bisa dilepaskan dari aktivitas matematika. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian bagi guru. Guru hendaknya dapat melakukan pembelajaran matematika yang dapat meningkatan koneksi matematis siswa. Koneksi matematis tersebut bisa berkaitan dengan koneksi internal dan koneksi eksternal. Koneksi internal meliputi koneksi antar topik matematika, sedangkan koneksi eksternal meliputi koneksi dengan mata pelajaran lain dan koneksi dengan kehidupan sehari-hari. Dalam peningkatan koneksi matematis siswa, guru perlu memperhatikan satu hal penting dalam tubuh manusia yang selama ini kemampuannya masih kurang dioptimalkan, yaitu otak. Dengan metode pembelajaran matematika konvensional yang hanya melibatkan siswa pada kegiatan mendengarkan dan mencatat, siswa cenderung mengasah otak kirinya saja yang hanya memiliki kemampuan daya serap sebesar 20 persen. Sementara 80 persen lagi pada bagian otak lain masih jarang diasah. Padahal belajar dikatakan berhasil bila otak difungsikan secara optimal atau seluruh bagian otak dapat diaktifkan. Oleh karena itu, pembelajaran matematika membutuhkan sebuah pendekatan pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kerja otak. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan Brain Based Learning (BBL).

Berdasarkan pemaparan di atas, penerapan pendekatan Brain Based Learning (BBL) merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran matematika. Penerapan pendekatan tersebut sangat penting untuk meningkatkan koneksi matematis siswa. Oleh karena itu, berikut ini akan dijelaskan mengenai penerapan pendekatan Brain Based Learning (BBL)  dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar.

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

Banyak ahli yang mengartikan pengertian matematika baik secara umum maupun secara khusus. James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Sementara Herman Hudojo menyatakan bahwa matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, sehingga belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat ditafsirkan bahwa ciri yang sangat penting dalam matematika adalah disiplin berpikir yang didasarkan pada berpikir logis, konsisten, inovatif dan kreatif.

Ilmu matematika dikenal sebagai ilmu dedukatif, karena setiap metode yang digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan metode deduktif, sedang dalam ilmu alam menggunakan metode induktif atau eksprimen. Namun dalam matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan cara deduktif, tapi seterusnya yang benar untuk semua keadaan harus bisa dibuktikan secara deduktif, karena dalam matematika sifat teori/dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif.

Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Materi yang dibelajarkan dalam pembelajaran matematika mempunyai sifat abstrak. Hal ini menuntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa (H.W. Fowlwer dalam Pandoyo,1997:1).

Tujuan umum pendidikan matematika ditekankan kepada siswa untuk memiliki: (1) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata, (2) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi, (3) Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis, berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan suatu masalah. Adapun tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah: (1) Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat, jujur dan efektif; (2) Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan; (3) Menambah dan mengembangkan ketrampilan  berhitung dengan bilangan sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari; (4) mengembangkan pengetahuan dasar matematika dasar sebagai bekal untuk melanjutkan kependidikan menengah dan (5) membentuk sikap logis, kritis, kreatif, cermat dan disiplin (Depdikbud, 1996).

PERANAN OTAK DAN MEMORI DALAM PEMBELAJARAN

Setiap otak itu unik dan mempunyai karakteristiknya sendiri. Otak merupakan organ tubuh manusia yang paling kompleks dan mengandung bermiliaran sel otak. Pada otak manusia terdapat bagian-bagian berbeda yang bertugas menjalankan berbagai fungsi mental, berpikir, seksualitas, memori, pertahanan, emosi, dan kreatativitas.

Roger Sperry (Hernowo, 2008) pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, menemukan dua belahan otak, yaitu otak kiri dan otak kanan yang berfungsi secara berbeda. Menurut beliau, otak kiri berpikir secara rasional, sedangkan otak kanan berpikir secara emosional. Sejalan dengan hal tersebut, Mukerjea dalam Hernowo (2008: 68) juga mengungkapkan bahwa otak kreatif adalah otak kiri dan otak kanan yang bekerja sinergis. Selain otak kiri dan otak kanan, ada juga otak tengah. Menurut Eric Jensen (2008:42) otak tengah bertanggung jawab atas tidur, emosi, atensi, pengaturan bagian tubuh, hormon, seksualitas, penciuman, dan produksi kimiawi otak. Otak tengah berfungsi sebagai sebagai jembatan penghubung antara otak kanan dan otak kiri, dan sebagai pusat keseimbangan. Otak tengah juga yang mendominasi perkembangan otak secara keseluruhan. Dalam pembelajaran, hendaknya dapat mengaktifkan seluruh bagian otak agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Otak juga sangat berperan dalam pembentukan memori (daya ingat). Otak mempunyai dua sistem penyimpanan memori yaitu long term memory (penyimpanan memori jangka panjang)  dan short term memory (penyimpanan memori jangka pendek). Dalam long term memory, memori sulit hilang  dan apabila dibutuhkan akan teringat kembali, lain halnya di sort term memory yang mudah hilang dan terlupa. Memori ini sangat penting dalam pembelajaran. Semua yang telah kita pelajari, baik secara sadar maupun tidak sadar, tersimpan dalam memori.

Teori otak mengulas tentang bagaimana menciptakan iklim pembelajaran yang berbasis pada kemampuan otak peserta didik. Selama ini banyak yang mengabaikan kemampuan otak serta bagaimana membuat otak  lebih aktif dan menjadikannya acuan dalam belajar. Pembelajaran yang kompleks merupakan sebuah proses yang merefleksikan dengan lebih baik cara otak manusia dirancang secara alami untuk belajar.

PENDEKATAN BRAIN BASED LEARNING (BBL)

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning (Jensen, 2008: 12) adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah untuk belajar. Sejalan dengan hal tersebut, Sapa’at (2009) juga mengungkapkan bahwa Brain Based Learning (BBL) menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa.

Prinsip-prinsip pembelajaran Brain Based Learning (BBL) adalah (a) Otak adalah prosesor paralel, yang berarti dapat melakukan beberapa kegiatan sekaligus, seperti rasa dan bau, (b) Belajar melibatkan seluruh fisiologi, (c) Pencarian makna adalah bawaan, (d) Pencarian makna datang melalui pola, (e) Emosi sangat penting untuk pola, (f) Keseluruhan proses otak dan bagian-bagian secara bersamaan, (g) Belajar melibatkan kedua memusatkan perhatian dan perifer persepsi, (h) Belajar melibatkan kedua proses sadar dan tak sadar, (i) Otak memiliki dua jenis memori: spasial dan hafalan, (j) Otak memahami fakta terbaik ketika tertanam di alam, memori spasial, (k) Belajar ditingkatkan oleh dihambat oleh tantangan dan ancaman, dan (l) Setiap otak adalah unik. (Jensen, 2009: 1)

Tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning (BBL) yang diungkapkan Jensen dalam bukunya yaitu: (1) Pra-Pemaparan; pra-pemaparan membantu otak membangun peta konseptual yang lebih baik (Jensen, 2008: 484), (2) Persiapan; dalam tahap ini, guru menciptakan keingintahuan dan kesenangan (Jensen, 2008: 486), (3) Inisiasi dan akuisisi;
tahap ini merupakan tahap penciptaan koneksi atau pada saat neuron-neuron itu saling “berkomunikasi” satu sama lain (Jensen, 2008: 53), (4) Elaborasi; tahap elaborasi memberikan kesempatan kepada otak untuk menyortir, menyelidiki, menganalisis, menguji, dan memperdalam pembelajaran (Jensen, 2008: 58), (5) Inkubasi dan formasi memori (memasukkan memori); tahap ini menekankan bahwa waktu istirahat dan waktu untuk mengulang kembali merupakan suatu hal yang penting (Jensen, 2008: 488), (6) Verifikasi dan pengecekan keyakinan; dalam tahap ini, guru mengecek apakah siswa sudah paham dengan materi yang telah dipelajari atau belum. (7) Perayaan dan integrasi funsional; tahap ini menanamkan semua arti penting dari kecintaan terhadap belajar (Jensen, 2008: 490).

Dari uraian di atas Brain based learning (BBL) bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika. sistem pembelajaran kognitif memang sangat berkaitan langsung dalam pembelajaran matematika, walupun begitu bukan berarti aspek kognitif saja yang harus dikembangkan dalam pembelajaran matematika, hal ini dikarenakan aspek kognitif tidak akan berkembang dengan optimal jika dalam pembelajaran tidak melibatkan komponen otak yang lain.

PENERAPAN BRAIN BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

Dalam menerapkan pendekatan Brain Based Learning (BBL), ada beberapa hal yang harus diperhatikan karena akan sangat berpengaruh pada proses pembelajaran, yaitu lingkungan, gerakan dan olahraga, musik, permainan, peta pikiran (mind map), dan penampilan guru. Berdasarkan hal tersebut, strategi pembelajaran utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi Brain Based Learning (Sapa’at, 2009) diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan (knowledge) sampai tahap evaluasi menurut tahapan berpikir berdasarkan Taxonomy Bloom. Soal-soal pelajaran dikemas seatraktif dan semenarik mungkin misalnya melalui teka-teki, simulasi games, tujuannya agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.

Kedua, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan pembelajaran di luar kelas pada saat-saat tertentu, iringi kegiatan pembelajaran dengan musik yang didesain secara tepat sesuai kebutuhan di kelas, lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. Howard Gardner dalam buku Quantum Learning karya De Porter, Bobbi, & Mike Hernacki menyatakan bahwa seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.

Ketiga, menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa (active learning). Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya. Merujuk pada konsep konstruktivisme pendidikan, keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh seberapa mampu mereka membangun pengetahuan dan pemahaman tentang suatu materi pelajaran berdasarkan pengalaman belajar yang mereka alami sendiri.

Ketiga strategi utama dalam penerapan Brain Based Learning tersebut hendaknya bisa diselaraskan dengan semua tahapan dalam pembelajaran Brain Based Learning. Penerapan Brain Based Learning menjadikan guru menggunakan strategi pembelajaran yang berdasar kepada pengoptimalan potensi otak. Hal yang bisa dilakukan seorang guru ketika proses belajar mengajar dengan menggunakan tahap-tahap Brain Based Learning (BBL)  adalah:

1.  Pra-Pemaparan

Memberikan pengantar atau ulasan tantang topik baru yang akan disampaikan, bisa dengan memajangnya pada papan pengumuman atau disampaikan secara lisan. Hal ini sebagai bertujuan untuk membuat koneksi pada otak tentang informasi baru yang akan didapat siswa.

2.    Persiapan

Menghadirkan siswa dalam lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Guru tidak hanya memanfaatkan ruangan kelas untuk belajar siswa, tetapi juga tempat-tempat lainnya, seperti di taman, di lapangan bahkan diluar kampus. Guru harus menghindarkan situasi pembelajaran yang dapatmembuat siswa merasa tidak nyaman, mudah bosan atau tidak senangterlibat di dalamnya dan dapat menciptakan suasana yang menggairahkansiswa dalam belajar.

3.    Akuisisi

Hal-hal yang bisa dilakukan dalam tahap akuisisi diantaranya adalah sebagai berikut.

a)        Menyajikan pembelajaran yang menarik dan berkesan bagi

siswa denganmenggunakan visualisasi dan warna. Contohnya: Jika ingin siswamemahami tentang bangun ruang, maka ajaklah siswa mengamati berbagai model bangun ruang atau benda-benda di lingkungan sekitar yang berbentuk bangun ruang. Setelah kegiatan tersebut, siswa kemudian diminta untuk menggambar bangun ruang tersebut semenarik mungkin dengan ditambah berbagai warna sesuai dengan kreativitas siswa. Rangsanglah siswa untuk  berkreatifitas membuat gambar bangun ruang tanpa harus terpaku dengan contoh yang diberikan oleh guru. Dengan demikian jika siswa sudah membayangkansebuah bangun ruang dan dapat menggambarkan kembali, maka konsep mengenai bangun ruang sudah tertanam pada otak kanan siswa. Dan jika suatu saat ditanyakan serta diminta untuk menggambar bangun ruang lagi siswa masih bisa melakukannya. Inilah yangdisebut sebuah “memori jangka panjang”. Otak akan mengingat informasi enam kali lebih efektif  jika secara jika secara memdukan keaktifan antara otak kiri dan otak kanan.

b)        Menghadirkan gambar-gambar hidup yang konkret dalam

pembelajaran. Hal ini senada dengan pendapat Fiske dan Taylor (Jensen,2008:91) bahwa media yang paling baik untuk memasukkan informasi adalahdengan gambar hidup yang konkret. Contohnya: untuk membelajarkan siswa mengenai konsep kecepatan, siswa bisa diajak untuk menonton video tentang berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kecepatan. Dengan begitu, materi yang disampaikan menjadi lebih konkret dan mudah dipahami siswa. Yang tidak kalah penting, suatu objek gambar hidup dapat merangsang aktifnya otak kiri dan otak kanan.

4.    Elaborasi

Hal-hal yang bisa dilakukan dalam tahap elaborasi diantaranya adalah sebagai berikut.

a)        Ajarkan siswa mencatat secara kreatif dengan peta

pikiran(mind maping). Peta pikiran adalah suatu cara mencatat kreatif yang dapatmelatih otak kanan. Catatan yang biasa dibuat secara urut rapi, teratur dari atas ke bawah sesuai aturan yang sudah menjadi kebiasaan berpuluh-puluh tahun, ternyata hanya melatih otak kiri saja. Siswa sering tidak mampu memahami catatannya untuk jangka panjang. Tetapi jika catatan dibuat sendiri secara kreatif oleh siswa dengan cara membuat konsep utama pada tengah halaman buku, kemudian dari konsep utama tersebut dibuat cabang dan ranting yang makin ke ujung memuat konsep yang lebih detail.Sehingga siswa dapat lebih memahami isi keseluruhan materi pelajaran dan mengetahui hubungan antar konsep-konsep. Yang perlu diingat dalam merancang sebuah peta pikiran (mind maping) adalah menambahkan gambar dan warna-warna menarik pada tiap cabang atau ranting konsep.

b)        Melakukan eksperimen atau bermain peran. Contohnya: untuk

melatih siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan pecahan, siswa bisa diajak untuk bermain peran (drama) yang memuat unsur-unsur mengenai permasalahan pecahan dalam kehidupan sehari-hari. Selain mengasah kemampuan otak kiri siswa dalam menyelesaikan permasalahan mengenai pecahan, cara seperti itu juga bisa melatih kemampuan otak kanan siswa dalam bidang seni.

5.    Formasi Memori

Hal-hal yang bisa dilakukan dalam tahap formasi memori diantaranya adalah sebagai berikut.

a)        Membangkitkan gelombang alpha otak siswa. Gelombang alpha ini adalah

cara untuk mengaktivasi otak tengah. Gelombang otak siswa yang cocok untuk menangkap informasi adalah bila otak siswa berada pada gelombang alpha. Pada panjang gelombang ini siswa terfokus untuk mendengarkan,memperhatikan pelajaran atau berkonsentrasi sehingga apa yang telah di pelajari pada suatu hari masih tetap ada pada hari sesudahnya. Konsentrasi ini ditandai oleh membesarnya pupil mata siswa. Untuk itu, ciptakan suasana menyenangkan bagi siswa. Jika siswa sulit berkonsentrasi maka selingi pembelajaran dengan permainan-permainan singkat yangmemotivasi siswa. Perlu juga pengaturan jadwal yang tepat seperti tidak tidak menempatkan materi yang sulit di siang hari dimana pada waktu itu gelombang otak siswa sudah berada gelombang beta. Pada saat itu,siswa sulit menerima informasi. Anjurkan pada siswa untuk memanfaatkan jam belajar antara jam tujuh sampai jam sembilan malam, dimana pada saat itu umumnya gelompang otak juga dalam posisi gelombang alpha.

b)        Menggunakan musik dalam pembelajaran. Menurut Robert Monroe

(dalam Jensen, 2008: 384) musik yang menggunakan tempo frekuensi dan pola- pola ritmik spesifik bisa membantu dalam meningkatkan konsentrasi, pembelajaran, dan memori.

6.      Verifikasi

Memberikan beberapa soal pemecahan masalah yang berkaitan dengan materi yang dibelajarkan kepada siswa. Hal ini untuk mengecek apakah siswa sudah paham dengan materi yang telah dipelajari atau belum. Hasil evaluasi kemudian diumumkan kepada siswa agar mereka mengetahui dirinya sudah memahami materi atau belum dan sebagai bekal untuk melakukan perbaikan.

7.    Integrasi Fungsional

Mengajak siswa untuk mengaplikasikan informasi yang didapatnya dalam kehidupan sehari-hari dan bisa menyampaikan informasi tersebut kepadaorang lain. Berikan kesadaran pada siswa bahwa aktivitas manusia tidak bisa terlepas dari matematika.

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning (BBL) dalam pembelajaran matematika diharapkan dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan berpikir, khususnya kemampuan berpikir matematis, termasuk kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi. Oleh karena itu, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning (BBL) dalam pembelajaran matematika memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan koneksi matematis. Dengan kemampuan koneksi matematis yang baik siswa dapat lebih memahami tentang konsep abstrak dalam matematika. Dengan demikian, kesulitan siswa dalam mempelajari matematika dapat dikurangi sehingga dapat dengan mudah mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP

Kesimpulan

Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Pembelajaran matematika banyak memuat konsep-konsep abstrak. Pembelajaran matematika membutuhkan sebuah pendekatan pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kerja otak. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan Brain Based Learning (BBL).

Pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Brain Based Learning (Jensen, 2008: 12) adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah untuk belajar. Tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning (BBL) yang diungkapkan Jensen dalam bukunya yaitu: (1) Pra-Pemaparan, (2) Persiapan, (3) Inisiasi dan akuisisi, (4) Elaborasi, (5) Inkubasi, (6) Verifikasi dan pengecekan keyakinan, (7) Perayaan dan integrasi funsional.

Strategi pembelajaran utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi Brain Based Learning (Sapa’at, 2009) yaitu: (1) menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa; (2) menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan; dan (3) menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Brain Based Learning (BBL) dalam pembelajaran matematika dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasah kemampuan berpikir, khususnya kemampuan berpikir matematis, termasuk kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi.

Saran

Berdasarkan simpulan diatas, penulis dapat mengajukan saran sebagai berikut:

  1. Bagi guru; diharapkan guru dapat menerapkan pendekatan Brain Based Learning (BBL) dalam pembelajaran matematika dengan baik agar kemampuan koneksi matematis siswa dapat ditingkatkan.
  2. Bagi sekolah; diharapkan sekolah dapat mendukung penerapan pendekatan Brain Based Learning (BBL) dengan meningkatkan sarana prasarana yang ada di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Herma Hudojo. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Malang: IKIP.

Jensen, E. 2008. Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak: Cara Baru dalam Pengajaran dan Pelatihan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hernowo. 2008. Menulis Feature di Dunia Venus. (Online), (http://internalmedia.wordpress.com/2008/02/19/menulis-feature-di-dunia-venus), diakses pada 2 Mei 2012/ 19.00 WIB

Sapa’at, A. 2009. Brain Based Learning. (Online), (http://matematika.upi.edu/ index. php/ brain-based-learning), diakses pada 2 Mei 2012/ 19.15 WIB

                 . 2012. Dahsyatnya Otak Tengah. (Online),(http://radenbeletz.com/ dahsyatnya-otak-tengah.html), diakses pada 2 Mei 2012/ 19.30

                 . 2012. Brain Based Learning. (Online), (http://edukasi.kompasiana. com/2011/10/07/brain-based-learning/), diakses pada 2 Mei 2012/ 19.45 

                   . 2012. Optimalisasi Potensi Anak Usia Dini dengan Brain Based Learning. (Online), (http://www.shibyan-center.com/index), diakses pada 2 Mei 2012/ 20.00

                   . 2012. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. (Online), (http://lenterakecil.com/pembelajaran-matematika-di-sekolah-dasar), diakses pada 2 Mei 2012/ 20.10

About these ads
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2012 in Uncategorized

 

5 responses to “PENERAPAN PENDEKATAN BRAIN BASED LEARNING(BBL) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

  1. Soojung_a

    September 20, 2012 at 3:58 pm

    Thank u for your article……….. :D

     
  2. kachu

    Februari 12, 2013 at 12:43 am

    permisi mba/ mas
    mau tanya apa BBL ini dikhususkan utk siswa SD saja ? mohon bantuan

     
  3. RafarafaVirafa Sagita

    Maret 22, 2013 at 8:45 am

    gimana caranya kalau mau liat file skripsinya

     
  4. Yuni Luphy

    April 16, 2014 at 7:29 am

    maaf saya mau tanya itu jurnal kah??? penulisnya cpa ya kok tidak dicantumkan

     
    • orinaru

      Mei 14, 2014 at 5:42 am

      Itu artikel…penulisnya saya sendiri orina rahayu utami.. silahkn klo mau dirujuk..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: